Sebelumnya saya minta maaf dulu dengan mas alid, mas agung, mas lubyz, dll. yang ternyata beberapa tahun belakangan sering sekali berkomentar di blog saya. Maaf karena baru liat komen – komen anda. Pada momen instrospeksi ini saya minta maaf sekali dan semoga nanti kita bener2 ketemu kopi darat. (hehehe)
Dari tahun 2007 saya sudah blogging. Dari jaman masih pake speedy yang kuotanya 1 giga ampe sekarang, (sialnya, pake speedy lagi) yang unlimited. Banyak kejadian seru yang saya alami selama perjalanan saya berbagi lewat tulisan yang tersebar di gubuk ini. Terkadang saya menantikan momen dimana ada waktu lumayan senggang untuk sekedar mencurahkan pikiran dan memacu neuron otak untuk memperbanyak sinapsis.
Di tahun saya hiatus (sekitar 2008-2010) banyak hal yang tidak saya ceritakan. Tahun – tahun itu saya lewati dengan masa yang mungkin saya rasa berat pada usia saya. Berpisah dengan kawan lama, transisi kebudayaan, dan juga tempat tinggal. Inilah saat dimana saya keluar dari zona nyaman. Dari menetap, menjadi nomaden. Pindah – pindah terus. Tapi, akhirnya saya menyadari bahwa mungkin inilah jalan hidup saya. Dan dengan cara ini saya bisa bertemu lebih banyak orang, menyaksikan indahnya dunia, melanglang melintas keluar dari kotak isolasi. Karena memang, dunia itu sangat indah.
Tahun 2010 saya memasuki masa yang boleh dibilang sebagai masa riot. Pemberontakan. Rebellation, ato apalah anda boleh memberi istilah. Di masa ini saya menjadi saya yang rock and roll. Anda bisa baca tulisan saya tentang sebuah kegiatan yang begitu saya kenang ini. Tahun 2010 menjadi khas, karena hal-hal tidak mungkin bisa terulang kembali. Hal – hal yang gila, acak, dan abstrak saya olah, dan rasakan disini. Luar biasa. Tapi setelah itu, penuh dengan penyesalan. Dasar.
Pada 2010 juga saya rasakan banyak pengaruh besar dalam hidup saya. Dimulai dari musik, jelas, saya sangat terpengaruh. Aliran saya mungkin British Pop, Alternative, Rock Alternative. Saya demikian senang dengan Coldplay, Nirvana, U2. Tapi ada yang tidak berubah. Semuanya harus easy listening, dan musikalitas tinggi. Ada yang bilang kriteria musik saya agak aneh. Ya, mungkin emang begitu adanya. Akhirnya pada kelas ini juga saya dihadapkan pada dua pilihan yang sama – sama beratnya. Antara ketua osis dan ketua PC Club. Saya simpulkan banyak hikmahnya saya memilih yang nomer dua.
Untuk urusan wanita dan cinta, mungkin saya sebatas mengagumi saja. Karena mungkin saya ndak selevel, ndak sebanding dengan yang saya taksir. Ada yang bilang “Gimana mau bisa dapet cewek, kalo ndeketin aja nggak pernah?” saya jawab dengan bahasa diplomatis bahwa cinta tak harus memiliki. Rasis. Tipikal orang Indonesia. Saya sadari, sampai saat ini saya masih belum punya nyali. Dari alasan saingan yang lebih baik dari saya, saya nggak pantas buat dia, sampai dengan “karena aku nggak mau mengganggu, aku ndak mau menjadi pengganggu”. Dan pada akhirnya memang sya menyadari bahwa mungkin saya ndak pantas lah. Minder. Kuper, untuk masalah yang satu ini.
Di tahun ini juga, saya jadi hobi membaca. Mulai dari biografi, sejarah, biologi, bisnis, hingga buku kuliah s2 bapak tentang manajemen, saya cicipi juga. Cuma yang belum terpegang sampai saat ini adalah buku bung karno. Si dia masih terjajar rapi di rak meja belajar. Di tahun ini saya punya komputer baru. Dasar saya memang ndak suka yang setengah setengah, hardware yang kenceng dulu yang saya prioritaskan, baru lainnya. Teman saya pernah berceloteh “CPU bagus, prosesor luar biasa, ram super besar, power supply, lebih mahal dari harddisk, tapi satu yang bikin kegi. Monitornya masih tabung!” Itu mungkin yang coba saya prinsipkan. Bahwa quality first, then appearance. Bukan maksud pamer, hanya menjelaskan bahwa pada saat itu, chipset saya yang paling mutakhir, nomer 1 di dunia. AMD 890GX, Ram 4 GB DDR3 Dual Channel, Prosesor AMD Phenom II X4 (4core) masing, masing core 3,4 GHz. Graphic cardnya memang biasa sih, namun kalodibandingkan ya masih premium lah, lha wong harga satu card satu juta.
Mungkin anda pikir saya menghabis-habiskan uang ortu saya. Anda salah. Niatan saya bukan seperti itu. Niat saya adalah komputer itu, bisa dipakai semua anggota keluarga yang mana membutuhkan. Dua, bisa dipakai hingga saya kuliah, karena memang luar biasa kencengnya, dan saya pikir ndak akan ketinggalan jaman hingga saya lulus kuliah. Dan yang ketiga, jika saya beli laptop, maka saya egois. Dari segi ekonomis pun jauh. Uang segitu dibelikan komputer, hasilnya luar biasa. Dibelikan notebook? Ya standar. dan itupun saya egois. Sekarang, bisa dilihat manfaatnya bagi rumah saya. Bapak mana kepikiran tentang itu. Makanya Tuhan menciptakan saya.
Inspirasi datang dari mana-mana. Yang menginspirasi saya, Steve Jobs. Saya tahu dia sejak pertama produk iPod keluar. Meski saya hanya bisa sebagai pengamat dan pemimpi, saya tahu benar produk Apple luar biasa. Dan saya berharap kelak saya bisa seperti dia dalam berbisnis dan memanage orang (yang positifnya saja). Dia luar biasa. Creative genius, crazy inventor. Most like what I wanna be. Yang kedua Nikola Tesla, lalu ada Gus Dur, Pak Karno. dan Purnomo Prawiro. Satu hal yang saya pegang. Saya sebenarnya tidak mau menyusahkan orang lain. Itu sebabnya saya ingin kaya, saya ingin sukses, agar bisa membantu orang lain, tanpa melupakan keluarga saya. Jujur, jadi kaya itu menyenangkan, minimal dalam pikiran saya begitu, dan kata orang, karena saya belum kaya.
Saat ini tahun 2011. Tahun akhir saya di SMA. Tahun dimana semua hal indah kembali menjadi kenyataan yang surrealism, absurd, dan berkaitan erat dengan pemberontakan. Terlebih lagi, post-power syndrome.
Mimpi saya terkadang berubah – ubah. Tapi obsesi saya mendirikan kerajaan korporasi. Entah dalam bidang farmasi, ataupun bioteknologi, teknologi dan yang berkutat di hal tersebut.